Detil Berita
Posted On : 23-07-2013

Surabaya Raih Kota Layak Anak Tiga Kali Beruntun

Humas - Kota Surabaya kembali mendapat penghargaan sebagai Kota Layak Anak (KLA) tahun 2013. Dengan demikian, Surabaya berhasil mempertahankan predikat KLA tiga kali berturut-turut. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Linda Amalia Sari Gumelar kepada Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, di Jakarta, (23/7).

Kesuksesan Kota Pahlawan sepanjang perhelatan KLA diawali pada 2011. Kala itu, Surabaya menyabet KLA untuk kategori Madya. Tahun berikutnya, status kota naik menjadi juara kategori Nindya. Prestasi itulah yang akhirnya kembali didapat pada 2013 ini.

Definisi KLA sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri (permen) PPPA No. 11 Tahun 2011 adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak.

Dalam sambutannya, Meneg PPPA, Linda mengatakan, kota menuju layak bukan berarti kota yang tidak punya masalah anak sama sekali. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana pemerintah, aparat penegak hukum dan seluruh jajaran, termasuk masyarakat membantu menyelesaikan problem tersebut. “Semua upaya penyelesaian masalah anak dilakukan demi kebutuhan dan hak terbaik anak,” katanya.

Linda menambahkan, dalam penilaian KLA pihaknya benar-benar mengevaluasi kota/kabupaten dari berbagai aspek. Total ada 31 indikator yang terbagi dalam 5 klaster. Diantaranya, hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan; pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni dan budaya; dan perlindungan khusus.

Kebijakan Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya yang responsif anak dalam bidang pendidikan seperti sekolah ramah anak, sekolah Adiwiyata, pemberian bantuan operasional sekolah (BOS), penyediaan 5 persen kuota sekolah bagi warga miskin serta pemberian bantuan seragam, buku dan alat tulis. Komitmen pemkot dalam memerangi angka putus sekolah tercermin dengan adanya monitoring di seluruh wilayah. Untuk memaksimalkan monitoring, wali kota menginstruksikan semua camat dan lurah untuk memantau keberadaan anak putus sekolah di masing-masing wilayah.

Di bidang sosial, pemkot memiliki Kampung Anak Negeri yang ada di Wonorejo dan Kalijudan. Dua lokasi tersebut menampung anak nakal dan anak berkebutuhan khusus. Selanjutnya, mereka dibina dan diberi pembekalan serta motivasi agar potensi yang ada pada diri anak bisa dimaksimalkan.

Sedangkan seluruh yayasan atau panti yang terdaftar di Dinas Sosial Kota Surabaya, juga mendapat bantuan berupa program permakanan anak yatim dan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita. Langkah tersebut sebagai bukti kepedulian pemkot terhadap tumbuh kembang anak. Selain itu, dari segi administrasi kependudukan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) menawarkan program pengurusan akte kelahiran keliling gratis bagi anak berusia kurang dari satu tahun.

Salah satu problem anak yang mendapat perhatian serius dari Pemkot Surabaya adalah trafficking atau perdagangan manusia. Gaya hidup dan terpaan pengaruh negatif menjadi faktor pemicu terjadinya trafficking yang belakangan mulai merambah ke lingkungan sekolah. Tak ingin masalah tersebut bertambah pelik, pemkot melakukan berbagai upaya pencegahan.

Misalnya, sejak 2011, instansi yang dipimpin Tri Rismaharini itu telah mengadakan sosialisasi penanganan permasalahan anak di seluruh sekolah di Surabaya. Kegiatan tersebut menyasar tingkat SLTP hingga SLTA baik negeri maupun swasta. Tak hanya para pelajar, kepala sekolah dan guru juga tak luput dari pembekalan masalah trafficking.

Menariknya, Pemkot Surabaya mempunyai konsep penanganan kenakalan remaja dengan memberdayakan remaja sebaya. Jadi, para remaja itu sendiri yang nantinya menjadi tempat curhat teman-temanya yang mengalami masalah. Dengan demikian, pendekatan bisa lebih maksimal karena para pelajar umumnya tidak malu bila menceritakan masalahnya ke rekan sebayanya. Saat ini ada sekitar 16.000 konselor sebaya yang siap memberi solusi bagi rekannya yang bermasalah.

Tidak berhenti sampai di situ, Pemkot Surabaya bersama instansi terkait juga rajin merazia tempat-tempat hiburan malam. Operasi yustisi kepada anak-anak dilakukan sebagai pencegahan terjadinya tindak trafficking. Bahkan Wali Kota Tri Rismaharini kerap memimpin langsung razia anak-anak yang kedapatan berada di tempat yang tidak semestinya pada jam-jam malam.

Keberhasilan Surabaya dalam mencapai KLA terbaik di Indonesia kategori Nindya tidak lepas dari komitmen seluruh stake holder yang selalu mengedepankan kepentingan dan hak anak serta mendengarkan aspirasi untuk kepentingan terbaik anak. Terkait hal itu, Risma -sapaan akrab wali kota- menyatakan, penghargaan adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap kerja keras yang dilakukan pemkot demi pemenuhan hak-hak anak.

Namun itu bukanlah yang terutama. Menurut Risma, yang terpenting adalah bagaimana menjadikan anak-anak Surabaya menjadi generasi penerus bangsa yang baik. Semangat itulah yang diakui mantan Kepala Bappeko itu menjadikan pemkot lebih responsif terhadap berbagai kasus atau masalah anak.

“Anak-anak berhak mendapatkan yang terbaik. Mereka berhak atas masa depan yang cerah. Komitmen utama adalah pemkot tetap memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak,” ujar wali kota sesaat setelah menerima penghargaan.

Sementara, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas & KB), Antiek Sugiharti, mengatakan, Surabaya akan terus mengembangkan program-program yang pro dan mengedepankan kepentingan anak. Konkretnya, konsep layak anak akan dibawa ke lingkup yang lebih kecil. Jadi tidak hanya pada skala kota.

“Pemkot akan mengembangkan konsep layak anak hingga skala kecamatan. Disamping itu, pendidikan ramah anak juga akan diimplementasikan di sekolah-sekolah. Serta, seluruh puskesmas akan menerapkan sistem ramah anak. Dengan begitu, nilai-nilai ramah anak akan lebih intens di seluruh wilayah,” terang Antiek yang juga mendampingi wali kota menerima penghargaan.(jf)


Kembali
GAPURA FLIPPING BOOK >>>
AGENDA >>>
Calendar of Events
INFO MASYARAKAT >>>
WEB STATISTIK >>>
Untitled Document
Online : Untitled Document 5
Total Hits : Untitled Document 480360 Hits
Hari Ini : 979
Kemarin : 2584
Bulan Ini : 56521
Tahun Ini : 657662
Total : 2264276