[ultimatemember form_id=89]
[ultimatemember form_id=90]

Kerajinan Miniatur Limbah Korek Api Pikat Warga Asing

BanggaSurabaya
  • BanggaSurabaya
  • 16 Februari 2017 BanggaSurabaya

Di tangan-tangan orang kreatif, barang bekas bisa menjadi bernilai emas. Seperti yang dilakukan Imam warga Maspati Gang 5, No. 84 Kampung Lawas, Surabaya ini mampu menyulap sejumlah barang bekas salah satunya limbah korek api gas menjadi miniatur menarik yang bernilai seni serta memiliki nilai jual.

Menekuni usaha kreatif memang bukan hal yang baru untuknya. Sejak tahun 1955 Imam sudah menjajakan hasil karyanya di pasaran baik ke Pasar Turi maupun Pasar Blauran. Kecintaan pada seni membuatnya selalu ingin berinovasi membuat karya-kara baru. Jika sebelumnya ia membuat kerajinan bongkar pasang dan pigura berbahan dasar harbot. Ide baru muncul disaat ketika dirinya tengah memainkan sebuah korek api bekas miliknya.

“waktu itu saya lagi duduk kumpul sama teman-teman, lalu saya mainkan korek api yang isinya sudah habis. Nah dari situlah muncul ide untuk membuat kerajinan” ungkapnya.

Awalnya ketika pertama kali membuat kerajinan ini, ia membuat bentuk jembatan Suramadu. Walaupun bentuk jembatan Suramadu membutuhkan banyak limbah korek api gas, mengingat tingkat kerumitan lebih kompleks. Namun ia tetap berusaha agar kerajinan korek api pertamanya menghasilkan produk terbaik. Alhasil saat itu ada wisatawan dari Palembang yang datang ke Kampung Lawas Maspati dan langsung tertarik untuk membeli.

Dalam sehari, Imam bisa membuat hingga 10 kerajinan korek api. Bentuknya pun beragam seperti motor Vespa, robot, pesawat, dan helikopter. Detail setiap item kerangka sangat diperhatinkan sehingga kerajinan dibuat secara rapi.

Ia juga mencontohkan untuk proses pembuatan miniatur      Vespa limbah korek api gas, yaitu awalnya bagian korek api dipisah satu persatu kemudian dirangkai dengan memakai lem, dan untuk membentuk bodi Vespa digunakan bagian seng korek yang dibentuk menggunakan tang. Hampir semua bagian korek api bekas ini tak ada yang dibuang.

Usaha yang ditekuninya selama lebih kurang lima tahun ini ia pelajari secara otodidak dan dikerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Menurutnya tidak ada kesulitan berarti selama proses pengerjaan. “tidak ada kesukaran, karena saya suka membuat kerajinan seperti ini, sudah terlanjur cinta sama seni jadi meskipun dikerjakan sendiri tidak masalah” tambahnya.

Kerajinan korek api buatannya bahkan pernah menarik perhatian dari turis asing yang saat itu sedang berkunjung ke Kampung Lawas Maspati. Sudah banyak wisatawan mancanegara baik dari Australia, Amerika, dan Jepang yang datang membeli produk miliknya.

 

Untuk satu kreasi miniatur dari limbah korek api bekas ini, Imam membrandolnya dengan harga Rp 40.000 – Rp 100.000 bergantung ukuran dan tingkat kerumitan yang dibuat. Namun dalam proses pemasaran, keterbatasan modal distribusi kerajinannya terbatas sehingga jangkauan konsumennya masih belum luas. Ia juga ingin apabila ada pihak yang membantu proses pemasaran sehingga usahanya akan lebih maju, karena kedepannya jika usahanya sudah berkembang dan meningkat ia ingin membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat.

Inovasi usaha miniatur dari limbah korek api gas akan selalu ditingkatkan. Seperti di tahun 2017 ini ia akan membuat bentuk Khas Surabaya diantaranya Bambu Runcing dan Monumen Tugu Pahlawan.

 

Related Post