[ultimatemember form_id=89]
[ultimatemember form_id=90]

Lontong Balap Tak Kenal Bosan

BanggaSurabaya
  • BanggaSurabaya
  • 16 Februari 2017 BanggaSurabaya

Makanan yang satu ini sudah tidak asing lagi di lidah pecinta kuliner khas Kota Surabaya. Lontong balap, bak pusaka berharga, di mana pun dan sampai kapan pun selalu diburu kelezatannya.

Bahkan kini di berbagai sudut Kota Surabaya banyak dijumpai lapak maupun gerobak dorong penjual lontong balap. Seperti yang didapati EastJava Traveler di sebelah Makro Surabaya, di depan bekas gedung bioskop Garuda Jalan Kranggan, kawasan Kertajaya gang XV, di Jalan Rajawali (tepatnya di seberang Bank Eksekutif), Jalan Kepanjen (Depan SMPN 2 Surabaya), dan masih banyak tempat penyedia lontong balap lainnya.

Begitu populer lontong balap, tak pelak kini banyak restauran, warung, atau rumah makan di Kota Surabaya dan sekitarnya yang menyediakan lontong balap. Seperti salah satunya di kartika Pujasera.

Di dalam sepiring lontong balap, terdiri dari berbagai campuran. Seperti lontong, kecambah, tahu goreng, lentho, kecap sebagai penyedap kuahnya hingga lontong balap terasa agak manis bila disantap, bawang goreng dan sambal. Lontong balap sendiri lebih didominasi oleh sayuran kecambah.

Sajian Lontong Balap terasa kurang pas jika tidak dipadukan dengan sate kerang, yang dijadikan sajian pelengkap menu ini. Di setiap warung lontong balap pasti menyediakan sate kerang. Apabila tidak berselera menambah menu berprotein tinggi itu, boleh saja.

Sate Kerang, dibuat dari kerang yang direbus kemudian disajikan menyerupai sate, tapi tanpa dibakar. Makin terasa nikmat jika ditambahkan dengan sambal kecap plus cabai rawit. Atau terkadang ada beberapa penjual lontong balap yang membuat sambal sate kerang dari campuran petis udang dengan cabai.

Untuk Lentho dibuat dari kacang beras atau kedelai yang dicampur dengan tepung kemudian ditambah dengan kencur, bawang daun, jeruk purut dan garam secukupnya. Bentuknya bulat menyerupai pergedel.

Dari berbagai bahan itulah, lontong balap siap dihidangkan untuk kita nikmati kelezatan rasanya. “Bermacam-macam bahannya dan kenikmatan rasa kuah yang bikin saya sampai ketagihan,” ujar Indah Fatmalasari, warga Kutisari, Surabaya, yang mengaku salah satu penggemar lontong balap.

Lantas, mengapa diberi nama lontong balap? Konon, ceritanya pada tahun 50-an, banyak pedagang makanan ini di kawasan Wonokromo. Kala itu, Wonokromo adalah tempat favorit masyarakat Kota Surabaya.

Para pedagang makanan ini seringkali berangkat menuju Wonokromo secara bersamaan. Tak jarang, saat mereka berangkat atau pulang bersamaan, mereka berlomba beradu cepat sambil membawa pikulannya masing-masing. Karena kegemaran pedagangnya untuk balapan itulah, makanan ini lantas disebut lontong balap.

Berbagai Kalangan
Sebagai salah satu makanan favorit di Kota Surabaya, tak salah bila lontong balap diburu banyak orang dari berbagai kalangan.

Seperti yang diakui Ning Riamah, salah satu pedagang lontong balap yang ada di Jalan Kranggan, bekas tempat Bioskop Garuda. Dia menjelaskan dari pejabat sampai masyarakat biasa, dari yang muda sampai yang tua. Bahkan, ada yang sengaja datang dari luar kota Surabaya. “Bahkan terkadang banyak juga turis yang ingin mencoba lontong balap,” imbuhnya

Warung lontong balap miliknya itu sebenarnya warisan orang tuanya yang telah berjualan lontong balap di tempat itu sejak tahun 1952. ”Sejak orang tua saya berjualan di sini, tempat ini sudah terkenal dengan lontong balapnya,” jelas Ning Riamah.

Dalam sehari, ia bisa menjual 200 piring lontong balap. ”Kalau malam minggu, bisa lebih ramai lagi,” katanya mengaku. Untuk dua ratus piring lontong balap itu Ning Riamah menghabiskan sekitar 75 lontong. Warung buka jam 10 pagi dan tutup pada jam sembilan atau 10 malam.

Sedangkan salah satu penjual lontong balap lainnya, yang akrab dikenal dengan sebutan Pak Gendut Kranggan mengatakan, penggemar lontong balap memang dari kelas bawah sampai kelas atas. Pemandangan ini dapat dilihat setelah jam kerja. “Kehadiran mereka mungkin karena makanan ini sudah ada sejak lama,” kata Pak Gendut. (sumber : eastjavatraveler.com)

 

Related Post