[ultimatemember form_id=89]
[ultimatemember form_id=90]

Rumah Bahasa Wadah Eksistensi Diri Untuk Warga Surabaya

domi wimpi
  • domi wimpi
  • 10 Agustus 2017 domi wimpi

 

Leli selaku Koordinator Rumah Bahasa / Foto: Andi Rinaldi Gautama

Rumah Bahasa yang terletak di Komplek Balai Pemuda semakin banyak diminati warga Surabaya. Peminatnya tidak hanya datang dari kalangan pendidikan, tetapi dari berbagai macam kalangan mulai kelas atas sampai bawah sudah dipastikan mampu merasakan manfaat Rumah Bahasa.

“Selain mahasiswa, ada sopir taksi dan gojek, serta pelaku UKM juga datang kesini untuk belajar bahasa Inggris,” terang Leli selaku Koordinator Rumah Bahasa saat ditemui di Rumah Bahasa, Rabu (9/8).

Didirikan sekitar tahun 2013, lanjut Leli, awalnya Rumah Bahasa hanya diperuntukkan untuk warga asli Surabaya. Namun, mengingat banyaknya peminat dari luar kota, maka regulasi pun turut diubah.

Warga diluar Surabaya sambungnya, dapat ikut merasakan belajar bahasa di Rumah Bahasa dengan menyertakan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) ataupun surat keterangan dari tempatnya bekerja.

“Awalnya memang dulu hanya untuk warga Surabaya. Namun, mengingat disini banyak pendatang, jadi kami menyesuaikan dengan memberi kesempatan belajar bagi yang lain,” tutur Leli.

Situasi kelas di Rumah Bahasa, Rabu, (8/8/2017) / Foto: Andi Rinaldi Gautama

Diakuinya sejak Rumah Bahasa berdiri, minat warga untuk menunjukkan eksistensi diri dengan penggunaan bahasa asing semakin bertambah. Artinya, orang-orang yang belajar bahasa asing kemudian membentuk komunitas sesuai dengan penggunaan bahasa tertentu untuk mewujdukan identitasnya.

“Tidak hanya Inggris, sekarang saya banyak menemui orang yang sama-sama mampu menguasai bahasa lain seperti Jerman dan Perancis dan pada akhirnya membentuk komunitas,” jelasnya.

Pengalaman belajar diluar kelas dengan teman untuk mengeksistensikan minat dan bakat dalam berbahasa asing  dirasakan salah satu pelajar bernama  Firda, Mahasiswa Semester IV Universitas Airlangga Surabaya.

“Awalnya  karena ada informasi dari teman yang belajar bahasa korea kemudian saya tertarik untuk belajar bahasa jepang. Karena kan sekarang budaya Korea dan Jepang sedang ramai di Indonesia, jadi saya tertarik mempelajarinya,” pungkas perempuan jurusan Sastra Jepang tersebut. (yw)

Related Post