[ultimatemember form_id=89]
[ultimatemember form_id=90]

Deden: Nafas Ludruk Harus Tetap Ada

domi wimpi
  • domi wimpi
  • 14 Oktober 2017 domi wimpi

Santai dulu: Deden saat ditemui di sanggar Ludruk Irama Budaya Surabaya / Foto: (wl/). 

Ludruk, kesenian seni peran khas jawa Timur kini mulai kurang terdengar gaungnya. Ketertarikan untuk memainkan atau menonton juga turut sepi peminat. Tapi, Deden menjadi salah satu orang yang masih bersedia melestarikan kesedian tradisional tersebut.

Tidak ada yang berbeda dari pria kelahiran 36 tahun lalu ini, penampilannya sama dengan bapak muda pada umumnya. Tapi siapa sangka jika Deden memilih untuk meninggalkan kehidupan mapannya demi melestarikan kesenian ludruk.

“Dulu saya bekerja di proyek BUMN. Mulai dari kuli sampai akhirnya bisa jadi staf. Tapi karena rasa tanggung jawab saya untuk melestarikan ludruk, saya memutuskan untuk keluar,” terangnya saat ditemui Sabtu (19/08).

Semuanya berawal dari diangkatnya Deden oleh seniman waria bernama Sakiyah Sunaryo. Ayah angkat yang menggeluti dunia seni, turut menjadikan Deden menjadi pecintanya. Terhitung mulai 1997, ia bergabung pada pertunjukkan Ludruk Tobongan yang sekarang bermakas di Sanggar Irama Budaya Surabaya.

Tidak banyak harapan pria kelahiran Depok ini ketika memutuskan untuk mulai bergabung dalam kesenian seni peran khas Jawa Timur, Ludruk. Darah seni yang mengalir dalam dirinya menuntut untuk terus berkecimpung sebagai pelaku Ludruk meski nafas kesenian itu semakin kehilangan asa.

Kendati demikian, tekadnya untuk tetap melestarikan Ludruk tidak pernah pudar. Deden masih terus berganti peran hingga sekarang. Beragam karakter sudah ia mainkan di panggung Ludruk Tobongan. Tidak banyak riuh tepuk tangan bukan penghalang baginya. Terbukti, meskipun Ludruk Tobongan Irama Budaya sekarang mulai sepi, pria kelahiran Bogor ini beserta teman-temannya masih semangat untuk tampil setiap minggunya.

“Dulu pas main di Wokoromo masih banyak yang lihat, sampai banyak yang berdiri karena kurang tempat duduk. Jaya-jayanya tahun 90an itu. Sekarang ya gini, paling yang lihat cuma 10-15 orang saja,” terangnya sembari penghisap rokok yang dia pegang.

Berjuang melestarikan seni serta meninggalkan kehidupan mapan yang sudah dicapainya, Deden mengakui keluarganya tak rewel. Meskipun di awal keputusannya selalu mendapat tentangan dari istri dan anaknya, kini semua terasa biasa untuk dijalani.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, leader Ludruk Irama Budaya ini mengandalkan uang sumbangan yang diberikan penonton setiap kali pertunjukkan berlangsung. Tidak banyak memang yang didapat, hanya 10-15ribu yang bisa didapat setiap orangnya. Untuk itu, demi menambal kebutuhan yang dirasa kurang, Deden juga bekerja sebagai kuli bangunan.

“Kalau dapatnya sedikit ya saya nguli, Mbak. Apa aja saya lakoni, yang penting halal. Saya ya gak bisa ninggal Ludruk eh soalnya,” katanya.

Deden hanya berharap, semakin modern suatu kota tak lantas menjadi hal yang wajar untuk meninggalkan budaya yang sudah mendarah daging di dalamnya. Ludruk, sebagai salah satu identitas Jawa Timur khususnya Surabaya, diharapnya mampu untuk terus “hidup” dan menjadi alternatif pilihan hiburan keluarga.

“Ya, semoga nafas ludruk ini gak putus aja. Meskipun yang lihat semakin sedikit, yang penting masih ada penontonya sudah bersyukur saya. Anak-anak muda sekarang semoga semakin cinta sama budayanya juga,” tutupnya di akhir wawancara. (wl)

Related Post